JaNIC Boarding School

Oleh: Junaidi Djohan*)

Usaha yang  berkah yang diajarkan Buya Hamka,  tidak hanya usaha rumah makan dan penginapan. Kini  bertambah satu lagi: JaNIC Boarding School.

Siang itu, sehabis Shalat Zuhur. Minggu (14/08), Dr. Tgk. Amri  Fatmi, Lc. MA., hadir di Masjid Jannatun Naim, Desa Batuputu, Kecamatan Teluk Betung Barat,  Bandar Lampung. Ia datang  dari jauh:  Nanggroe Aceh Darussalam (NAD),   khusus memberikan tabligh akbar.

Dari gelar akademiknya, jelas Tgk. Amri bukan kaleng-kaleng. Pria  kelahiran Desa Ujoeng Leubat, Lueng Putu, Pidie Jaya  itu meraih Gelar Doktor Aqidah Filsafat dengan predikat Summa Cumlaude dari Universitas Islam tertua di dunia, Al-Azhar Asy-Syarif.  Dialah yang menjadi putra NAD pertama yang meraih gelar prestisius itu.

Tgk. Amri  muda merantau  ke  Mesir saat Aceh panas-panasnya dalam pergolakan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). ‘’Bagi kita orang Aceh, inilah ‘pelarian’  terbaik,’’ sebut Tgk. Amri saat tabligh akbar, soal  perjalanan pendidikannya di Al-Azhar Asy-Syarif. 

Tabligh yang disampaikan kepada jamaah Masjid Jannatun Naim bertemakan,“Kita Bumikan Peradaban Islam untuk Mewujudkan Masyarakat Berkemajuan.”  Tgk. Amri lebih banyak berkisah soal hijrah Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah yang terjadi pada 622 Masehi.

Tema ini relevan dengan momentum Bulan Muharram ini. Suatu bulan mulia bagi umat Islam, karena terjadinya peristiwa hijrahnya Rasullullah dari Mekkah ke Madinah, sebagai awal perhitungan Tahun Hijriah.

Kisah hijrah sendiri penuh tantangan,  karena dakwah Rasullullah di Mekkah selalu mendapat tantangan, serangan, bahkan ancaman bunuh dari Kaum Quraisy.

Satu yang menarik dikisahkan Rasullullah hijrah secara diam-diam. Dampaknya baik, karena rombongan hijrah Rasullullah lebih aman dari kejaran Kaum Quraisy.

Rasullullah juga disebutkan begitu rapi mengumpulkan perbekalan untuk mencapai tujuan hijrah, sehingga tidak terlacak sama sekali oleh musuh-musuhnya itu.

“Ketika mengumpulkan perbekalan di satu gua, jejak rombongan selalu diiringi gembala domba, sehingga tidak ada jejek onta rombongan Rasullullah terlihat. Yang terlihat hanyalah jejak-jejak domba, sehingga mengecoh musuh Beliau,’’ jelas Tgk. Amri. 

Saat di Madinah, Rasullullah mampu “mempersaudarakan” warga sekitar dengan rombongan Hijrah. Rasullullah juga mampu membangun peradaban baru, termasuk dalam hal berbisnis secara berkah.

Sebelum kedatangan Rasullullah di Madinah, pasar-pasar misalnya, dikuasai “kaum lain”. “Tentu kita tahu bagaimana (‘kaum lain’) itu menguasai pasar. Maka dari  itu Rasullullah membuat pasar baru dengan pengelolaan yang baru pula,’’ jelasnya.

“Dengan apa mengelola pasar, sehingga bisa memberi manfaat untuk pembentukan peradaban yang beradab?’’

Retoris itu dijawab sendiri oleh Tgk. Amri, bahwa untuk mengelola pasar-pasar, sehingga bisa memberi manfaat untuk pembentukan peradaban, tentulah dengan: etika…

Dalam waktu yang tidak terlalu lama, sejumlah pasar yang dikelola kaum muslimin dengan etika berbisnis yang syar’i berkembang pesat.

“Yang tidak bisa ikut etika berbisnis di pasar-pasar yang dikelola kaum muslimin, dipersilahkan mencari pasar lain. Tidak banyak yang bisa bertahan dengan cara bisnis lama, sehingga peradaban di pasar-pasar muslim lebih berkembang,’’ sebutnya.

Tentulah bagi masyarakat Madinah bisa lebih sejahtera lahir dan batin dengan hijrahnya Rasullullah ke daerah mereka. Tidak hanya soal pengelolaan pasar, tapi lebih dari itu. ‘’Sampai-sampai Rasulullah memiliki peristirahatan terakhirnya di Madinah, yang sampai sekarang didatangi peziarah dari seantero dunia,’’ tambah pria berjambang khas itu.

Dari perjalanan hidup Rasullullah, termasuk hijrah dari Mekah ke Madinah untuk membentuk peradaban Islami, kata Tgk. Amri, sangatlah baik untuk menjadi teladan. Tak terkecuali bagi keluarga  besar Jannatun Naim, termasuk dalam mengelola usaha menuju keberkahan.

Para pendiri Yayasan Jannatun Naim yang memang dari orang-orang terpelajar dan taat —misalnya, diyakini bisa pula membentuk peradaban baru bagi masyarakat sekitar Komplek Jannatun Naim.

H. Dasril St. Bagindo—lebih sering dipanggil Buya Dasril, yang selama pandemi Covid-19, “diam-diam” telah membangun Komplek Jannatun Naim. Tidak hanya masjid yang megah berlantai dua dengan kapasitas 1.500 jamaah, tapi juga membangun gedung belajar, asrama, dan prasarana lain yang representatif.

Asrama putri dan putra masing-masing tiga lantai, 54 kamar, mampu menampung masing-masing 324 orang. Ruang belajar, empat lantai, 28 lokal, memiliki faslitas lift. Ruang belajar PKU (Pendidikan Kader Ulama) tiga lantai, tiga lokal besar, dan satu aula. Juga ada ruang santap/makan, klinik pratama dan bimbingan konseleing Islami, mes guru, gues house, rumah keluarga untuk syeikh/kiyai/ustaz, kantin hingga mini market, sudah betul-betul siap menyambut kedatangan santri.

Pondokan-pondokan di taman untuk bersantai, tempat parkir yang luas, dan hall olahraga mulai dari bulu tangkis, futsal sampai tenis meja, memperlengkap fasilitas yang dimiliki. Maka jadilah, kawasan yang dulu jauh dari keramaian, semak belukar, bahkan seperti hutan,  kini benar-benar seperti disulap jadi komplek yang wah. Tentu ini akan memberi manfaat bagi anak bangsa seantero, termasuk warga sekitar.

Kemudian Yayasan Jannantun Naim  dikukuhkan pula untuk pemanfaatan fasilitas representatif yang dibangun owner Buya Dasril. Ya, kompek yang terletak di    Jl. Wan Abdurahman Nomor 13 Kelurahan Batuputu Teluk Betung Barat, Kota Bandar Lampung, kini resmi sebagai tempat SMP-SMA JaNIC Boarding School. 

Itu menyusul kesepatanan lima sekawan terdiri dari H. Dasril St. Bagindo, H. Ujang Suparman, M., P. hD., Prof. Dr. H. Undang Rosidin, M. Pd., H. Haryanto, M. Si., dan Dr. H. Yahya AD, M. Pd. mendirikan  Yayasan Jannatul Naim yang akan mengelola JaNIC Boarding School itu.

Para pendiri tersebut merupakan orang-orang terpilih. Prof. Undang berasal dari perguruan tinggi negeri ternama provinsi ini: Universitas Lampung. Sementara Ujang Suparman pernah enam tahun mengenyam pendidikan di Australia. Begitu juga dengan Haryanto yang memang pakarnya pendidikan, yang terkenal dengan konsultan hebat di Lampung.

Gerak cepat pengelolapun semakin jelas. Penerimaan santrinya sudah mulai dibuka, walaupun proses belajar mengajar baru dimuai tahun depan. “Alhamdulillah, inden Pendaftaran Peserta Didik Baru atau PPDB SMP-SMA JaNIC Boarding School sudah dibuka mulai 15 Juli 2022 sampai 30 September 2022,’’ sebut salah satu pendiri Jannatun Naim, Dr. H. Yahya AD, M.Pd.

Tak tanggung-tanggung, kepala SMP-SMA JaNIC Boarding School juga dipilih dari yang mumpuni, yakni lulusan Kairo Mesir. Kurikulum SMP-SMA JaNIC Boarding School telah pula dirancang sesuai kebutuhan kekinian. “SMP-SMA JaNIC Boarding School memfokuskan pada pendidikan saintek, pendidikan kader agama atau PKU, sosial kesehatan, wirausaha, informasi dan teknologi,’’ sebut H. Ujang Suparman, M., P. hD., yang dinobatkan sebagai ketua Yayasan Jannatun Naim.

Ini sekaligus bagi Buya Dasril, apa yang didapatnya dari Buya Hamka soal bisnis yang berkah, tidak lagi sekedar usaha rumah makan dan penginapan. Kini, usahanya sudah bertambah dengan pendidikan: SMP-SMA JaNIC Boarding School itu.

Seperti diketahui, Buya Dasril dikenal dengan rumah makan dan hotel berlabel   Begadang.  RM Begadang yang kemudian berkembang, dibangun pula hotel seperti Hotel Nusantara di Jalan Soekarno Hatta di Bandar Lampung, dan hotel di Natar Lampung Selatan.

Suatu kesempatan Buya Dasril bercerita bahwa orang setiap hari pastiah  perlu makan, dan setiap hari juga perlu tidur, beristirahat selain di rumah mereka. Nah, siapapun yang datang ke Lampung atau warganya sendiri memerlukan tempat makan dan hotel seperti itu.

“Maka dari itu, Buya Hamka berkata ke saya, usaha apa yang berkah dan cepat berkembang itu adalah rumah makan dan hotel. Keberkahan akan datang ketika orang makan kemudian kenyang dan bersyukur, kita ikut dapat berkahnya. Begitu pula ketika bangun tidur, mereka segar dan energik lagi, mereka bersyukur, inilah keberkahan yang kita terima setiap harinya,’’ sebut Buya Dasril. 

Barakallah fii umri…

 

*)junaidi djohan mpd mm, dosen sejumlah perguruan tinggi dan pratisi  pers,  sedang menyelesaikan doctoral manajemen pendidikan islam di uin raden intan lampung.

About Redaksi

jurnalistik
View all posts by Redaksi →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *