Oleh: Junaidi, M.Pd., M.M.
Merdeka! Merdeka! Merdeka. Dirgahayu Republik Indonesia ke-73!
MELALUI proklamasi yang sederhana dan singkat, dari Jalan Pegangsaan, Timur Nomor 56 Jakarta, para pendiri bangsa mengobarkan suatu revolusi kemerdekaan yang menginspirasi bangsa-bangsa lain, melahirkan Republik besar di Asia, dan membuka sejarah Indonesia modern.
Sepanjang masa, Generasi-45 akan dikenang sebagai generasi emas yang mengubah nasib bangsa dengan semangat perjuangan, pengabdian dan pengorbanan yang luar biasa. Etos inilah yang harus selalu diteladani bersama. Setelah 73 tahun merdeka, diyakin para pendiri bangsa akan bersyukur dan bergembira melihat transformasi bangsa Indonesia di era saat ini.
Dari bangsa yang sewaktu merdeka sebagian besar penduduknya buta huruf, rakyat Indonesia kini mempunyai sistem pendidikan yang kuat dan luas, dengan indek guru dan murid yang membaik, dengan jumlah gedung dengan jumlah murid yang semakin berimbang, dengan tingkat gaji guru yang memadai dengan tunjangan profesinya, dan tentu hingga sederet prestasi para siswa kita di tingkat internasional.
Dari bangsa yang tadinya terbelakang di Asia, Indonesia telah naik menjadi middle-income country, menempati posisi ekonomi ke-16 terbesar dunia, dan bahkan menurut Bank Dunia telah masuk dalam 10 besar ekonomi dunia jika dihitung dari purchasing power parity.
Dari bangsa yang seluruh penduduknya miskin di tahun 1945, Indonesia di abad ke-21 mempunyai kelas menengah terbesar di Asia Tenggara dan salah satu negara dengan pertumbuhan kelas menengah yang tercepat di Asia. Dari bangsa yang kerap jatuh bangun diterpa badai politik dan ekonomi, Indonesia telah berhasil mengonsolidasikan diri menjadi demokrasi ketiga terbesar di dunia.
Pendek kata, setelah melalului beberapa dekade sejak merdeka, Indonesia di abad ini terus tumbuh menjadi bangsa yang semakin bersatu, semakin damai, semakin makmur, dan semakin demokratis.
Semua capaian ini tidak untuk berpuas diri atau menepuk dada. Ini untuk mengingatkan diri bahwa semua ini berawal dari revolusi 1945 yang dirintis para pendiri republik.
Di samping itu, ini juga bukan monopoli siapapun. Semua itu adalah kulminasi gabungan dari sumbangsih dan kerja keras seluruh generasi, dari era Presiden Soekarno, era Presiden Soeharto, era Presiden BJ Habibie, era Presiden Abdurrachman Wahid, era Presiden Megawati Soekarnoputri, era Presiden Susilo Bambang Yudhyono, hingga Presiden Joko Widodo saat ini.
Insya Allah, ke depan, akan dilanjutkan di era presiden-presiden berikutnya.
Ditarik ke daerah, mengisi kemerdekaan itu bergerak dalam banyak kepemimpinan daerah mulai RT/RW, kelurahan/desa, kecamatan, kabupaten/kota hingga provinsi.
Lampung yang kini punya gubernur M Ridho Ficardo dengan 14 kabupaten/kota dengan kepemimpinan yang terus berganti sesuai masanya, akan terus memberi warna untuk negara yang bernama Indonesia yang kini berusia 73 tahun tersebut.
Banyak prestasi yang muncul dari provinsi ini untuk Indonesia sehingga telah tercatat dengan tinta emas. Itu tidak akan pernah berhenti, dan prestasi-prestasi baru akan terus bermunculan.
Dengan begitu, Lampung juga diharapkan terus bersinar di tingkat nasional. Berbagai persoalan, terutama masalah infrastruktur yang menjadi titik sentral pembangunan Lampung saat ini, hendaknya dapat terselesaikan dalam waktu yang tidak terlalu lama.
Persoalan lain, termasuk masalah korupsi yang sering menjadi benalu dalam pembangunan, hendaknya akan terus dapat ditekan sedemikian rupa sehingga kebocoran dana-dana pembangunan dapat ditekan hingga mendekati titik nol, dan hasil pembangunan dapat segera mensejahterakan masyarakat secara adil dan merata.
Kita tidak sekedar mengejar pertumbuhan, tapi juga ingin mencapai pemerataan. Jangan sampai dalam usia negeri ini sudah 73 tahun, jurang antara yang miskin dengan yang kaya begitu dalam!
Dirgahayu Indonesia ke-73! ++



