Seperti Copet Teriak Copet

Oleh: Junaidi, M.Pd., M.M.

Copet sering berteriak copet, dan mereka sering berlagak manis pada korbannya. Maka berhati-hatilah terhadap orang-orang begitu, karena  tidak hanya ada di komunitas copet, tapi juga ada di komunitas lain.

Di halte, calon penumpang yang menunggu terlibat pembicaraan dengan beberapa pemuda. “Pada jalur bus itu, copetnya minta ampun Bu! Sehari pada satu bus saja, bisa terjadi belasan kali kecopetan,” ujar pemuda I.

Bus yang rawan kecopetan dimaksud pemuda I pun lewat. Dengan cekatan, sambil melempar senyum pada si Ibu, pemuda I naik bus.

“Ibu jangan percaya saja sama pemuda tadi. Dia itulah di antara pecopet yang dimaksud,” kata pemuda II kepada sang Ibu.

Sang Ibu mulai curiga dengan pemuda II. Tapi yang ini tak kalah kalem dan ramahnya. Di banding dengan Pemuda I tadi, Pemuda II lebih kuning langsat. Rambutnya ala selebritis. Pakaian yang dikena hingga sepatu, sepertinya ia adalah seorang mahasiswa semester tiga. Jadi agak sulit untuk tidak mempercayainya.

Eh, pemuda II pun pergi. Seperti pemuda I tadi, ia pun melempar senyum pada sang Ibu sebelum naik bus satu jurusan. Sang Ibu dengan perasaan mulai was-was, tidak kuasa tidak menyambut senyum sang Pemuda II.

Tidak lama berselang mendekatlah Pemuda III. “Ibu tahu ndak semua pemuda yang ibu ajak ngobrol tadi adalah copet!” katanya.

“O, ya?” respon Ibu mulai mengepit tas yang dibawanya. Kalau-kalau benar kata Pemuda III ini, pastilah beberapa harta miliknya sudah berpindah tangan pada Pemuda I dan II tadi.

“Ibu tak percaya, coba Ibu cek lagi barang-barang bawaan Ibu, apa masih ada atau tidak!” isyarat pemuda dengan nada memerintah dengan halus.

“Copet! Copet! Mereka memang copet,” sang Ibu tak bisa menahan diri, karena dua buah hpnya sudah tak ada di tempat. Begitu juga dengan dompet berisi uang dan sejumlah ATM, Kartu Kredit, dan kartu identitas sudah pada raib.

Begitu sang Ibu berteriak, bus pun lewat. Pemuda III pun pergi meninggalkan sang Ibu dengan dikerumunan beberapa orang.

“Ada apa Ibu?” tanya dari beberapa orang yang mengerumuni sang Ibu.

“Ternyata pemuda-pemuda tadi semuanya pencopet yang berteriak copet. Saya jadi korban kemanisan mereka, dan kepura-puraan mereka. Sungguh tak bisa ditebak lagi mana pecopet yang teriak copet. Bapak-bapak, dan ibu-ibu semua yang berkerumun di sini, hati-hatilah pada orang-orang demikian, karena tidak hanya ada di komunitas copet, tapi juga di komunitas lain yang berkedok kemanisan.” ???

About Redaksi

jurnalistik
View all posts by Redaksi →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *