Diktator Waktu

Oleh: Junaidi Djohan*)

“Mengubah waktu (agenda, jadwal menyangkut orang banyak) secara tiba-tiba adalah ciri-ciri pemimpin diktator… (Prof. DR. H. Ramayulis dan DR. Muyadi, S.Ag, M.Pd dalam Manajemen & Kepemimpinan Pendidikan Islam)–

Pagi itu: Sabtu 12 November 2022, saya  santal.  Ya, sambil menunggu latihan untuk Porwanas di Semarang.  Padahal semalam agak tegang, Penyebabnya, karena latihan untuk Porwanas berdempetan dengan pertemuan dengan satu Prof: pukul 10.00-12.00 WIB.

Artinya kalau dua kegiatan berdempetan waktunya, tak mungkin saya akan full  menikmati kesempatan, menikmati konsentrasi dan seterusnya.

Lebih pagi, 08.00-10.00 WIB mestinya ada pertemuan dengan Prof yang lain. Tapi Prof yang ini menunda jadwal sampai 19.30 WIB. Maka jadil lengkaplah santai saya pagi ini dari pukul 08.00 sampai pukul 13.00, karena pada pukul 13.00 Prof yang lain lagi mengajak pertemuan  ofline.

Bagi saya inilah hari-hari yang harus dinikmati dalam beberapa waktu ini.  Senang saja. Biasa saja. Tidak perlu mengerutu. Tidak perlu protes, apalagi sampai demo tunggal membentangkan spanduk: “Hei, Kok Seenaknya Loe Me-reskedul Waktuku…Sekonyong-konyong, seperti diktator tanpa memikirkan dampak bagi rakyatmu yang lemah! ”

Mungkin ada orang lain bisa bereaksi seperti itu. Dia mengerutu. Dia protes. Dia demo dalam diam, dengan sumpah serapah yang diam juga.

Mengapa tidak? Mungkin jadwalnya ingin bermesraan dengan sang istri terganggu karena reskedul para “penguasa waktu” demikian. Semula berniat mengantar anaknya ke satu PIAUD, tidak jadi. Semula ingin melihat cucunya sambil makan kue cucur,  batal.

Mungkin saja ia dimarahi kliennya karena tidak tepat waktu. Mungkin saja proyeknya dibatalkan oleh panitia lelang karena dianggap wanprestasi. Atau mungkin  tak bisa mengantar biaya perawatan babenya yang tengah dirawat di satu rumah sakit, sehingga jiwanya tak tertolong, karena harus mengikuti jadwal baru reskedul tersebut.

Singkatnya bagi banyak orang, dampak tindakan “diktator waktu” ya itu. Tapi sekali lagi bagi saya  sih biasa-biasa saja. Karena saya dulu sampai kini, masih harus taat untuk diatur-atur “penguasa-penguasa” waktu itu., sehingga menjadi “orang terlatih” diatur-atur.

Ketika saya jadi bos kecil, ada bos lebih besar mengatur. Naik lagi jadi bos  di atas bos kecil, ada lagi bos yang lebih besar mengatur.

Rasanya pernah juga jadi bos besar –ya tidak besar-besar amat, —ada lagi yang mengatur.

Itulah takdir, diatur terus, dan tidak ada yang lepas dari itu, sampai  diatur dan harus taat kepada Sang Pencipta, dan Sang Penguasa lagit dan bumi.

Sekali lagi itulah takdir, Sunatullah.

Sayapun waktu jadi bos juga tukang atur. Waktu jadi bos (bos kecil)  di suatu lembaga -misalnya –ada pengajar yang mengajar membawa anak ke kelas. Saya sih ingin menegur,— namanya bos, tetapi eh tak jadi. Emosi saya redam karena berpikir, pengajar ini kalau mengajar membawa anak ke kelas, pastilah tak ada yang mengasuhnya di rumah.

Kalau saja harus menyewa pengasuh, pastilah ia harus mengeluarkan uang untuk pengasuhan tersebut. Mungkin tidak sebanding dengan gaji yang diterimanya sebagai pengajar kontrak.

Saya yakin saja, ia pun paham atas kesalahannya, dan sekaligus  tak berdaya atas kesalahan tersebut.

Atas kepahaman dia jugalah saya semakin paham bahwa saya tidaklah berkuasa atas (waktu)-nya. Karena saya bukan diktator baginya.

Saya selalu berpikir, semua orang (dalam kapasitas apapun, kualifikasi apapun) pastilah sudah tahu kekuasaan masing-masing. Kita hanya bertugas mengingatkan: bahwa kita semua adalah raja bagi orang di bawah kita. Di baliknya: kita juga adalah abdi bagi mereka.

Maka dari itu, dari lubuk hati yang dalam selalu saya camkam: kalaupun saya dinobatkan menjadi raja, jadilah raja yang bijaksana. Mungkin bisa dari yang biasa, yang kecil saja: janganlah memperkosa waktu orang-orang tak berdaya!

*)junaidi djohan adalah wartawan senior, dosen, dan tengah mengikuti program doktoral UIN RIL.

About Redaksi

jurnalistik
View all posts by Redaksi →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *