“Wo Jiao J. Han Wo Laizi Yindunixiaya…”
Berkesempatan “belajar ” lagi ke China merupakan experience tersendiri. Chongqing yang warganya 96% beretnis Han sebagai kota pertama untuk “belajar”, membuat nyaman saya yang ber-“etnis Han”. “Wo jiao J. Han, wo laizi Yindunixiya… (Nama saya J. Han, saya berasal dari Indonesia)”
Laporan Junaidi Johan, Chongqing
KERUMITAN Chongqing, China sudah terasakan begitu menginjakkan kaki di Bandara Internasional Jiangbei. Menuju pengambilan bagasi, harus berjalan kaki cukup jauh. Lalu, harus menaiki eskalator menanjak naik dan menurun tajam. Selanjutnya, naik-turun lift juga begitu; menanjak tinggi dan menurun meremas jantung.
Ketika koper udah didapat di bagage claim area, harus pula menaiki kereta layang atau monorel untuk sampai ke stopan bus. Mirip-mirip monorel di Bandara Soekarno Hatta dari Terminal Domestik ke Teriminal Internasional, atau sebaliknya. Bedanya, di sini percakapan antarpenumpang dan suara petugas bandara yang berseliweran di udara dimonoli berbahasa Mandarin, diikuti berbahasa Inggris dialek Tiongkok.
Turun dari monorel, perjalanan menuju hotel sekitar 40 menit menambah kerumitan pemandangan mata sekaligus ketakjuban luar biasa. Jalan-jalan seperti tumpang tindih, bertumpuk di langit. Kadang memutar membentuk setengah lingkaran. Bahkan melingkar penuh. Terlihat bertumpuk, karena di atas ada jalan, di bawahnya ada jalan lagi, lurus dan menikung.
Tidak hanya jalan biasa. Tapi juga jalan layang atau flyover, seperti mengapung di udara yang di bawahnya jalan-jalan yang lain.
Tidak hanya jalan biasa atau flyover, tetapi juga rel kereta yang memanjang menembus sisi-sisi bangunan yang menjulang, termasuk menerobos apartemen.
“Oh, inilah monorer yang viral itu,” gumam dalam hati.
Ya, Liziba Light Rail Through The Building. Lizia, adalah sebuah nama. Light Rail, adalah kereta ringan atau monorel. Throught, berarti melalui atau menembus. Building, bermakna bangunan atau gedung. Jadi, Liziba Light Rail Through The Building, adalah monorel menembus gedung, dalam hal ini menembus apartemen di lantai 6-8.
Selain Liziba Light Rail Through The Building, masih ada Great Hall of The People, Xuixing Building, Bayi Road, Hongya Cave, dan Pipayuan Hotpot yang wajib dikunjungi ketika berada di Chongqing.
Gread Hal of the People adalah Gedung Agung milik rakyat yang ikonik. Xuixing Building seperti berada di lantai satu, tapi sesungguhnya di lantai 22.
Hongya Cave –orang Tiongkok menyebutnya Hongya Dong, adalah pemukiman yang dibangun di tebing dan goa.
Bagi pecinta kuliner, tentu harus ke Pipayuan Hotpot. Yaitu restoran yang superluas sekaligus supermewah. Meja makan disusun dilingkari 8 kursi. Jumlahnya ratusan. Makanan dimasak sendiri dengan kuah khas Tiongkok; superpedas membuat lidah kelu.
Itu dilewati dulu, belum dikunjungi, karena masih ada jadwal pulang ke tanah air nanti akan melewati lagi Chongqing, dan menginap lagi di hotel yang sama, tentu akan mengeksplor tempat-tempat indah itu, dan tentu akan menaiki langsung Liziba Light Rail Through The Building, si kereta layang menembus apartemen.
Kota dengan luas 82 ribu km2 lebih ini memang dibangun di daerah pegunungan dan lembah, sehingga jalan raya, jembatan, rel kereta api dan gedung tinggi saling bersilangan dalam banyak tingkat. Banyak flyover bertingkat hingga beberapa lapis. Banyak terowongan panjang yang menembus pegunungan. Banyak jembatan besar yang membentang di atas sungai dan lembah.
Dijuluki Mountain City atau Kota Gunung, kota yang 76% pegunungan ini memang dibangun mengikuti topografinya yang naik turun, kadang jalan berada di atas gedung, sementara kereta bisa melintas di sisi-sisi bangunan menjulang, sehingga orang yang baru datang seperti saya merasa berada di dunia film cyberpunk atau futuristik.
Kalaulah dilanjutkan perjalanan lagi, rasanya lelah juga. Makanya begitu di depan hotel ingin rasanya rebahan, sambil merenung, kok ada negeri seperti ini? Pantaslah, kita “diperintahkan” belajarlah sampai ke negeri China.
Di Gansen International Hotel, dapat kamar sisi indah di lantai 13 dari 227 kamar yang tersedia di hotel bintang lima ini. Lokasinya berada di Distrik Yubel, Chongqing, sekitar 9 km saja dari Bandara Jiangbei. Tepatnya Nomor 655 Konggang Avenue. Hotelnya berdesain modern dengan lobby besar dan interior megah bergaya bisnis.
Walau pekerjanya kurang mahir berbahasa Inggris, lebih senang berbahasa Mandarin, lalu dari kamar tidak kedap suara, sehingga terasa bising dengan deru kendaraan di luar, tetap saja ada kenikmatan lain yang memanjakan mata.
Melongok dari jendela kaca kamar hotel, terlihat indahnya jalur kereta layang metro yang memanjang di tengah kawasan. Ini kemungkinan jaur transit Kota Chongqing yang melewati area Yubei menuju bandara Jiangbei tadi. Di bawah rel terlihat boulevard besar dengan pepohonan rapi di kedua sisi jalan.
Geser sedikit, sebelah kanan tampak komplek gedung besar beratap biru, kemungkinan kawasan industri ringan, pusat logistik, fasilitas pendidikan atau perkantoran.
Di kejauhan terlihat deretan apartemen dan gedung hunian tinggi khas urban baru Chongqing.
Hari yang semakin malam malah membuat kota ini semakin hidup dengan lampu neon, papan LED, lampu-lampu kecil yang menyala memerah, menguning, dan atau berkilau keemasan, khas warna China yang melambangkan kebahagiaan dan kemakmuran.
Jalan-jalan di lereng bukit tak kalah indahnya. Bertebaran lampion-lampion dan bangunan-bangunan tradisional memancarkan cahaya keemasan. Hujan yang turun tipis di malam itu, dengan kabut yang turun dari pegunungan, membuat lampu-lampu kendaraan memantul di jalan basah, sehingga membuat suasana Chongqing terasa dramatis sekaligus romantis.
Kakipun seperti ditarik-tarik untuk melihatnya dari dekat. Walaupun hujan turun tipis, langkah tetap mengayun, apalagi perut sudah mulai keroncongan.
Soal mengisi perut, khusus malam ini, banyak tempat makan, termasuk yang halal yang tidak jauh dari hotel. Tinggal berjalan kaki menelusuri jalan di samping hotel, banyak penjual makanan di situ dan buka hingga larut malam. Yang jualan diantaranya muslim. Maklum di Chongqing muslimnya cukup banyak. Beberapa situs komunitas muslim menulis, ada 1% penduduk muslim Chongqing. Kalau memakai populasi penduduk Chongqing 30 jutaan, maka 1% berarti 300 ribuan muslimnya.
Mayoritas muslim di Chongqing berasal dari Suku Hui, sebagian Uyghur, pedagang dari Xianjiang. Tentu ya itu, komunitas kuliner halal tersebut.
Walaupun etnis warga Chongqing beragam, namun yang mendominasi tetaplah etnis Han yang menembus 96% dari jumlah total warganya yang 30 jutaan. Sisanya Tujia, Miao, Hui (ini banyak yang muslim), Yi, Manchu, dan Unghur (juga banyak muslim).
Beruntung saya juga “beretnis” Han. Ya, J. Han. J, singkatan Junaidi. Han, ya Johan. Atau anaknya Alm Johan.
Maka dari itu, saya nyaman memakai nama J. Han ketika di Tiongkok.
Ketika membayar makan-minum, saya bilang,”Wo jiao J. Han, wo laizi Yindunixiya…” (Saya J. Han, dari Indonesia)
“Oo, Han…Yindunixiya…” (Oo, Han…Indonesia) jawab si penjual makanan itu seraya tersenyum.
Senyum komunitas halal itulah membuat saya kepikiran sampai ke tempat tidur. Senyum itu begitu misteri. Tapi di sisi lain, meminta untuk segera melupakannya. Tak perlu menghabiskan energi, karena esok pagi-pagi sekali harus menempuh perjalanan sekitar 7 jam ke tempat lahir Mao Tse-tung atau Mao Zedong, ke Provinsi Hunan.
Ya, ke Provinsi Hunan. Tapi bukan di Shaoshan pedesaan kecil pertama kali pada 26 Desember 1893 itu Mao Zedong menghirup udara segar. Melainkan ke Fenghuang, sebuah kota tua atau wilayah county.
Informasinya, butuh 7 sampai 8 jam dengan transportasi darat untuk sampai ke Fenghuang. Harus melewati Chongqing menuju Fenghuang memang “full tunnel”. Atau, jalan yang terasa “isinya terowongan melulu”. Keluar terowongan, sebentar di jembatan, masuk terowongan lagi, lalu waduk, lalu tunnel lagi. Total perjalanan sekitar 650 Km melewati sekitar 80–150 terowongan, waw… bisa ratusan meter, bahkan belasan kilometer. Terowongan-terowogan itu menembus gunung-gunung batu menjulang yang nun jauh di lembahnya mengalir sungai-sungai besar, dan kecil dengan air yang jernih, seperti Sungai Yangtse, sungai terbesar di China.
Tentu, perjalanan panjang itu akan sangat menakjubkan, dan sayang untuk dilewatkan.
Maka malam ini, saya ingin istirahat cukup sehingga punya banyak energi untuk mengarungi perjalanan panjang keesokan harinya. (bersambung)




