Belajar Lagi Sampai ke Negeri China (3)

Dari  “Gedung 72”  Hingga Jembatan Kaca dan Gunung Avatar

Zhangjiajie berada di kawasan Pegunungan Wuling, barat laut Hunan China. Kota seluas 9.500 km² dengan populasi 1,5 juta jiwa ini, dulunya termasuk daerah miskin. Setelah  objek wisata dibuka dan mendunia, dari The 72 Tujia Stitled Buildings hingga Glass Bridge dan  “Gunung Avatar” di Zhangjiajie National Forest Park,  semua berubah: 180 derajat.

Laporan Junaidi Johan, Zhangjiajie

Hari  itu menuju Zhangjiajie. Masih di Provinsi Hunan China. Naik  kendaraan khusus. Sekitar 200-an Km dari Fenghuang. Kalau naik bus umum, ongkosnya 120 Yuan, atau Rp306 ribu, dengan kurs 1 Yuan Rp2.550.  Dengan bus ini perjalanan dari Fenghuang ke Zhangjiajie ini sekitar  2,5 jam.

Bisa pula naik kereta cepat (high-speed train), dan ongkosnya lebih murah. Hanya Rp230 ribu. Walau lebih murah dibandingkan naik bus umum, tapi sampaikan lebih cepat. Atau hanya 40-60 menit, sudah sampai di pusat Kota Zhangjiajie.

Dengan kendaraan khusus,  tentu  lebih enak mengaturnya. Mau berhenti  kapan dan di manapun bisa dilakukan, terutama untuk menikmati rest area yang disukai. Lalu, untuk santapan-ngopi-ngeteh  di mana pun –tinggal bilang shifu (begitu orang Tiongkok menyebut sopir). Walau begitu, masih bisa tembus dari Fenghuang ke Zhangjiajie sekitar 2,5 jam.  

Begitu pula keinginan  sampai di  The 72 Tujia Stitled Buildings ketika sudah gelap,  bisa direalisasikan.  The 72 Tujia Stitled Buildings tidak ada apa-apanya ketika masih siang atau terang. Barulah malam datang, ikon malam kota Zhangjiajie  itu memperlihatkan pesonanya; berkilau keemasan dan memerah indah.

Sering pula disebut “72 Qilou  atau 72 Wonder Tower”The 72 Tujia Stitled Buildings adalah kompleks bangunan bergaya rumah panggung suku Tujia. Juga terinspirasi dari  benteng pegunungan kuno dan pasar tradisional Xiangxi berarsitektur Ming–Qing. 

Angka “72” menggambarkan jumlah bangunan yang terintegrasi jadi satu.  Bangunan utamanya setinggi  109,9 meter,   dan masuk Guinness World Record sebagai rumah panggung Tujia tertinggi di dunia.

Ketika The 72 Tujia Stitled Buildings memperlihatkan pesonanya, capek perjalanan sekitar 2,5 jam tadi serasa hilang semua. Manusia tumpah ruah di sini.  Mereka turun dari mobil-mobil  bus, mobil-mobil pribadi, dan sepeda motor yang parkir di lapangan  yang luas, persis di depan The 72 Tujia Stitled Buildings.

Pemerintah Hunan menyebut, sejak resmi dibuka sampai 2026 ini sudah menerima lebih dari 6 juta kunjungan wisatawan. Per harinya diperkirakan sekitar 3.500–5.000 orang pengunjung.  Akan meledak lagi ketika musim liburan China,  golden week, musim panas,  dan malam weekend.  Pengunjung bisa tembus lebih dari  10 ribu per malam.

Tempat ini memang lebih terkenal sebagai spot foto malam, street food, pertunjukan budaya, dan nightlife wisata Zhangjiajie.

Saya memilih berfoto di  seberang jalan, persis depan The 72 Tujia Stitled Buildings. Lalu berfoto di parkiran. Di sini latarnya tampak semua   The 72 Tujia Stitled Buildings. Hanya agak gelap, dan detil ornament tidak tajam terlihat.

Tentu di sini banyak yang menawarkan jasa fotografer. Mereka adalah anak-anak muda, pria-wanita yang membawa hp siap foto dan tab untuk mengedit hasil jebretan. Mereka menawarkan jasa foto biasa tanpa edit serius sekitar 20–50 Yuan per foto.   Paket beberapa foto  tambah edit lalu color grading, sekitar 80–300 Yuan. 

Kalau pakai kostum tradisional  tambah banyak spot,   plus retouch professional, bisa 300–800  Yuan.  Kalau dirupiahkan  20 Yuan ya Rp45 ribu-lah.   50 Yuan, Rp110 ribu-lah.   80 Yuan,  Rp204 ribu-lah.  300 Yuan,  ya Rp670 ribu-lah. Dan, 800 Yuan, ya Rp2,04 juta.

Setelah menikmati keramaian di The 72 Tujia Stitled Buildings, malam itu menginap di hotel bintang 4, Western Grand Hotel. Dari jendela kaca kamar Western Grand Hotel masih terlihat terang benderang berkilauan The 72 Tujia Stitled Buildings dari kejauhan.

Ternyata di Kawasan The 72 Tujia Stitled Buildings ini mulai terang benderang pada 18.00 dan tetap menyala sekitar 24.00. Momen yang paling spektakurle biasanya sekitar 19.50 hingga 19.55 saat seremoni “lighting the tower” atau penyalaan utama seluruh bangunan. Saat itu seluruh komplek mendadak menyala penuh dengan efek cahaya dan hologram.

Zhangjiajie Glass Bridge

Besok paginya setelah sarapan di Western Grand Hotel, berangkat untuk menikmati The Grand Canyon. Yaitu, kawasan ngarai alam dengan tebing batu tinggi, sungai hijau kebiruan,  air terjun,  hutan pegunungan,  dan jalur wisata alam.  Suasananya sangat alami dan dramatis, karena jurangnya dalam serta dikelilingi pegunungan batu khas Zhangjiajie.

Spot utama yang dituju adalah Glass Bridge dan Boat yang ada di Kawasan The Grand Canyon itu. Glass Bridge atau jembatan kaca raksasa,  membentang di atas jurang The Grand Canyon. Di bawahnya membentang sungai di mana banyak boat yang bisa dinikmati wisatawan.

Nama resmi Glass Bridge adalah Zhangjiajie Glass Bridge.  Yang menarik tentu, lantainya  yang dari kaca bening,  membentang sangat tinggi di atas jurang,  panjangnya sekitar 430 meter, lebarnya 6 meter, dari dasar jurang tingginya 300 meter dan pernah menjadi jembatan kaca terpanjang serta tertinggi di dunia.  Saat berjalan di atasnya, pengunjung bisa melihat langsung dasar jurang jauh di bawah kaki. Karena itu banyak orang merasa tegang sekaligus kagum.

Di bawah Glass Bridge terdapat sungai dan danau kecil di area canyon. Setelah turun dari area jembatan kaca, wisatawan biasanya bisa menikmati naik boat/perahu,  menyusuri sungai di antara tebing,  menikmati pemandangan canyon dari bawah.

Jadi pengalaman wisatanya lengkap melihat canyon dari atas,  berjalan di Glass Bridge,  lalu menikmati boat ride di bawah jurang.  Karena itu dalam paket wisata Zhangjiajie, ketiga hal ini sering disebut bersamaan Grand Canyon,  Glass Bridge,  dan boat ride.

Tidak semua dapat dinikmati dari Grand Canyon pada hari itu.  Ke Glass Bridge saja yang 40-an Km dari Western Grand Hotel butuh waktu satu jam-an. Begitu masuk pusat pengunjung, harus dulu membeli tiket, kemudian berjalan kaki cukup jauh melewati pemeriksaan tiket elektronik, area tunggu, toilet, toko suvenir, dan tempat penitipan barang.

Sebelum masuk lebih jauh, petugas biasanya memeriksa barang bawaan. Tas besar, tripod, selfie stick, dan kamera profesional tidak diperbolehkan dibawa ke atas jembatan. Pengunjung biasanya hanya membawa ponsel dan dompet kecil.

Sebelum benar-benar masuk ke area jembatan kaca, ada pemeriksaan keamanan lagi. Di sini pengunjung diwajibkan memakai pelindung sepatu khusus agar kaca tidak tergores. Biasanya berupa kain atau pelindung merah yang dipasang di atas sepatu.  Di area ini suasana mulai terasa menegangkan, karena dari kejauhan jembatan transparan sudah mulai terlihat membentang di antara dua tebing raksasa.

Setelah pemeriksaan, pengunjung berjalan melewati jalur pendek menuju pintu masuk jembatan kaca. Semakin dekat, lantai kaca mulai tampak sangat transparan. Dari pinggir tebing sudah terlihat dasar lembah jauh di bawah sana. Banyak orang mulai berjalan pelan, sebagian gugup, sebagian sangat antusias.

Angin pegunungan terasa cukup kuat dan udara sangat segar. Begitu menginjak bagian kaca untuk langkah selanjutnya, sensasinya langsung berbeda. Di bawah kaki terlihat jurang dalam dengan pepohonan, sungai kecil, dan batu-batu besar.

Sebagian pengunjung berjalan perlahan sambil berpegangan,  duduk di kaca untuk foto, bahkan ada yang merangkak karena takut ketinggian. Di tengah jembatan, pemandangannya paling spektakuler. Tebing Grand Canyon Zhangjiajie terlihat mengelilingi seluruh area.

Di bagian tengah terdapat area paling terkenal untuk berfoto. Dari sini panorama lembah terlihat sangat luas. Di titik ini juga terdapat area bungee jumping,  spot foto utama, dan tempat menikmati panorama canyon dari ketinggian ekstrem.  Beberapa orang menghabiskan waktu cukup lama di tengah jembatan hanya untuk menikmati pemandangan dan mengambil video.

Rasanya ingin berlama-lama di tempat ini, apalagi di ujung jembatan ada panggung kecil tempat atraksi budaya khas Thangjiajie. Kita dipertontonkan ala film-film China dengan pemeran berpakaian khas, dan pedang mengkilat beratraksi dengan saling berhadapan menyerang dan menangkis serangan.

Atraksi itu melengkapi  penikmatan Glass Bridge hingga sore. Ketika Kembali untuk pindah ke Santo Domingo International Hotel, pembicaraan tak putus-putusnya atas kekaguman Tiongkok meminij wisatawaan sehingga bisa se-spektakuler begitu dengan pengunjung yang sangat superramai.

Zhangjiajie National Forest Park

Tetapi ketika sudah di kamar hotel Santo Domingo  yang terletak di kawasan Wulingyuan, harus pula istirahat, tidur mempersiapkan diri esok harinya menuju tempat yang lebih spektakuler yaitu  “Gunung Avatar” di Zhangjiajie National Forest Park. Ke sini bukan sekedar perjalanan pergi ke gunung, tetapi seperti masuk ke dunia Film Fantasi Avatar.

Untungnya Hotel Santo Domingo cukup dekat dengan area wisata utama Zhangjiajie,  di mata Gunung Avatar berada. Hanya sekitar 10–15 menit berjalan kaki, atau 3–5 menit naik mobil, sudah sampai di gerbang wisata Wulingyuan tersebut.

Pagi hari  itu udara  agak  dingin,  sedikit berkabut,  dan lembap khas pegunungan Hunan.  Saat keluar hotel, terlihat jalan-jalan kecil wisata,  toko suvenir,  restoran lokal,  dan bus wisata yang mulai ramai membawa turis menuju taman nasional.

Begitu sampai di Gerbang Taman Nasional, masuk melalui gerbang Wulingyuan/East Gate. Bagi wisatawaan mancanegara seperti saya, yang ditunjukan adalah paspor. Tinggal tap di pintu masuk, pintu segera terbuka. Selanjutnya di area shuttle bus, kita sudah ditunggu bus wisata. Bus  gratis  ini membawa kita Bailong Elevator.  Perjalanan sekitar 15–20 menit. Jalan mulai menanjak,  berkelok di antara tebing,  dan pemandangan batu-batu raksasa mulai muncul di kanan-kiri.

Semakin jauh masuk, suasana makin terasa seperti dunia Avatar. Pilar-pilar batu menjulang vertikal,  beberapa tertutup kabut,  hutan tumbuh di atas batu,  dan jurang dalam tampak di sela-sela lembah.  Inilah ciri khas Zhangjiajie yang menginspirasi pegunungan terapung di Film Avatar.

Tiba di Bailong Elevator,  lift kaca raksasa itu, ya lift kaca outdoor tertinggi di dunia itu,  tingginya  326 meter,  menempel langsung di tebing batu raksasa,  dan naik supercepat,  how.. kurang dari dua menit.

Saat antre, tampak dinding tebing besar tepat di depan,  suara air dan angin dari hembah membuat berdecak kagum. Apalagi ketika lift transparan sudah  bergerak naik di sisi gunung.  Sensasi naik luar biasa.  Awalnya lift bergerak perlahan,  lalu melesat naik.  Awalnya hanya terlihat batu tebing dekat kaca lift, beberapa detik jurang mulai terbuka di bawah,  pepohonan tampak mengecil,  dan pilar-pilar batu muncul satu per satu dari kabut.  Pemandangan ini sangat dramatis, sungguh!

Cuaca yang berkabut saat itu, dari lift terlihat gunung-gunung  seperti melayang di udara.  Semua yang di lift  spontan diam. Segera memotret,   atau mengambil video. Spontan terpukau melihat panorama.

Setelah keluar dari lift, berada di area Yuanjiajie — kawasan paling terkenal di Zhangjiajie,  di sinilah spot utama “Gunung Avatar”. Tempat yang biasanya dikunjungi Avatar Hallelujah Mountain.  Inilah gunung batu yang terkenal karena mirip pegunungan terapung di Film Avatar. Bentuknya tinggi,  ramping,  dan berdiri sendiri di antara lautan kabut.

Di area atas gunung terdapat jalur kayu,  jembatan kecil,  spot foto,  toko minuman, dan kadang monyet liar.  Nikmatnya berjalan santai dari satu viewpoint ke viewpoint lain sambil menikmati kabut,  tebing,  dan gunung-gunung unik yang bentuknya berbeda-beda.

Ya, area Yuanjiajie dan Bailong Elevator adalah bagian paling ikonik dari seluruh taman nasional.

Selesai menikmati area Avatar,  untuk kembali,  berjalan kaki lagi, naik bus lagi, itu bus gratis. Sambil berjalan di keramaian, di sisi bawah  terlihat cable car bergerak perlahan menjauh. Cukup jauh berjalan, beberapa kali naik bus gratis. Beberapa kali melewati pos-pos pemeriksaan, seperti waku masuk tadi. Pada akhirnya naik Bailong Elevator lagi untuk turun.

Sensasinya sama di kala naik tadi. Bedanya, waktu berangkat waktunya di pagi hari, dan waktu pulang waktunya sudah hampir magrib. Tidak terasa betapa keindahan itu membuat waktu berjalan cepat.

Tak terasa pula satu hari lagi akan pulang ke tanah air. Tapi kembali via Chongqing,  satu Kota di China pertama ditapaki waktu datang seminggu yang lalu. Di Chongqing akan menikmati lagi objek-objek wisata, termasuk santapan nikmat di Piyuan Hotpot, restoran supermewah mendunia itu. (bersambung)  

About Redaksi

jurnalistik
View all posts by Redaksi →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *