Perjalanan 650 Km Lewati 150 Terowongan
Chongqing menuju Fenghuang memang “full tunnel”. Atau, jalan yang terasa “isinya terowongan melulu”. Keluar terowongan, sebentar di jembatan, masuk terowongan lagi, lalu waduk, lalu tunnel lagi. Total perjalanan sekitar 650 km melewati sekitar 80–150 terowongan.
Laporan Junaidi Johan, Fenghuang
PAGI sekali sudah bersiap menuju Provinsi Hunan. Provinsi tempat lahirnya Mao Tse-tung atau Mao Zedong, tokoh revolusioner, pemimpin politik, dan pendiri Republik Rakyat Tiongkok modern pada 1949. Ia memimpin Partai Komunis Tiongkok dan menjadi tokoh paling berpengaruh di China selama beberapa dekade.
Ya, ke Provinsi Hunan. Tapi bukan di Shaoshan, pedesaan kecil yang pada 26 Desember 1893 itu Mao Zedong lahir. Melainkan ke Fenghuang, sebuah kota tua atau wilayah county. Orang Tiongkok menyebut county dengan Xian. Kita menyebutnya kabupaten atau kotamadya.
Perjalanan ternyata memang mencengangkan. China ternyata tidak semua negerinya padat penduduk. Tapi banyak yang lengang penduduk. Sesekali terlihat kota kecil. Sesekali komplek perumahan. Sesekali perladangan tanaman pangan, dengan beberapa rumah penduduk saja.
Yang menakjubkan, perjalanan panjang selalu melihat hamparan gunung-gunung menjulang di lembahnya mengalir sungai dengan air membiru. Di atas sungai membentang jembatan-jembatan, dengan panjang dari yang sedang hingga panjang sekali. Tapi semuanya tampak kokoh dan ikonik bagi daerah di mana jembatan itu membentang.
Masih di wilayah Chongqing, perjalanan tol dimanjakan dengan aliran Sungai Yangtse dan Sungai Jialing. Tentu dengan jembatan-jembatannya. Semakin mendekat Fenghuang Ancient Town atau wilayah Provinsi Hunan, paling sering terlihat Sungai Wujiang mengular. Wujiang adalah anak sungai besar dari Sungai Yangtze.
Gunung-gunung menjulang di sepanjang perjalanan tol itu terlihat hijau. “Tapi itu gunung batu yang sulit tumbuh subur tanaman. Makanya warga sini dulunya pada miskin. Tidak seperti Indonesia yang subur karena gunung berapinya menyemburkan humus yang menyuburkan tanah,’’ ujar Acin, tour guide yang mengaku pernah ke Manado, Bali, dan Surabaya.
Dulu sejumlah daerah di China seperti Chongqing, Fenghuang, dan Zhangjiajie begitu miskin. Tapi setelah jalan-jalan dibuka, warga sini berubah 180 derajat. Sejumlah daerah yang dibuka sebagai objek wisata, kemudian ramai, antara lain karena viral di media sosial.
Upaya pemerintahan China juga tidak tanggung-tanggung. Jalan-jalan tol dibangun dengan menembus puluhan bahkan ratusan gunung batu untuk membuka isolasi antardaerah. Dari atau menuju Kota Chongqing-Fenghuang atau Zhiangjiajie misalnya, kini sangat lancar. Tidak pernah merasakan kemacetan ketika menuju Fenghuang ataupun ke Zhiangjiajie.
Sejumlah rest area yang disingahi begitu modern dan bersih. Pengelolaannya juga digital. Sejumlah CCTV siap melihat hal-hal yang tidak diinginkan, sehingga ketika ada yang ketinggalan suatu barang berharga, seperti handphone, cepat terpantau dan segera dikembalikan ke pemiliknya.
Kebersihan, kenyamanan, ataupun keamanan dirasakan pula begitu menembus terowongan panjang ratusan meter hingga berkilo-kilo meter. Lampu dipasang terang temaram. Terkadang terdengar seperti sirine police yang siap mengamankan pelintas. Warna dinding terowongan dibuat sedemikian rupa, sehingga serasa nyaman melintas, walaupun ketika di dalam terowongan itu mobil bisa saling mendahului.
Chongqing menuju Fenghuang memang “full tunnel” atau jalan yang terasa “isinya terowongan melulu”. Keluar terowongan, sebentar di jembatan, masuk terowongan lagi, lalu waduk, lalu tunnel lagi. Total perjalanan sekitar 650 Km melewati sekitar 80–150 terowongan. Ada jalan tol 48,7 Km di Chongqing yang memiliki 11 terowongan dan 20 jembatan. Artinya, dengan 91% jalurnya berupa jembatan atau terowongan.
Terowongan pendek hanya sekitar 100–300 meter. Atau, 200–800 meter. Terowongan sedang bisa mencapai 2-8 Km. Terowongan panjang terkenal di area jalur Chongqing dan arah Hunan seperti Chengkai Tunnel sekitar 11,5 km. Chengkai Tunnel tentu bukan terowongan terpanjang di China. Masih ada Tianshan Shengli Tunnel (bukan di rute Fenghuang) mencapai 22,13 km.
Pertanyaannya tentu, dengan medan batu kapur, gunung curam, rawan longsor, sungai besar, sehingga harus membuat ratusan jembatan dan tunnel, berapa lama China menembus jalan begitu? Teknologi apa yang digunakan?
Ternyata, untuk jalan tol Chongqing menuju Fenghuang sendiri, sebenarnya bukan satu proyek tunggal. Melainkan gabungan beberapa expressway (begitu orang Tiongkok menyebut jalan tol) yang dibangun bertahap selama kira-kira 15–20 tahun. Sebagian besar koneksi modern antardaerah di koridor itu selesai sekitar akhir 2010-an sampai awal 2020-an.
Setelah jaringan expressway lengkap, perjalanan yang dulu bisa lebih dari 10–12 jam —lewat jalan gunung lama, sekarang biasanya sekitar 6–8 jam.
China memakai kombinasi beberapa teknologi besar untuk membuat terowongan jalan tol di daerah pegunungan seperti sekitar Chongqing menuju Fenghuang Ancient Town ini.
Teknologi utamanya, pertama, TBM (Tunnel Boring Machine). Mesin bor raksasa yang sering dijuluki “cacing baja”. Diameter mesin bisa lebih dari 10–16 meter. Mesin ini menggali batu, menghancurkan gunung, sekaligus memasang lapisan beton terowongan. China sekarang termasuk negara paling maju dalam teknologi TBM dan bahkan membuat TBM sendiri untuk batu keras dan terowongan bawah sungai.
Kedua, NATM (New Austrian Tunneling Method). Ini metode yang sangat sering dipakai di pegunungan China. Caranya batu digali sedikit demi sedikit, lalu langsung diperkuat dengan baut batu, rangka baja, dan semprotan beton (shotcrete), kemudian lanjut menggali lagi. Metode ini fleksibel untuk gunung dengan kondisi batu yang berubah-ubah.
Ketiga, Drill and Blast (bor dan peledakan). Untuk batu sangat keras, gunung dibor, diisi bahan peledak, lalu diledakkan bertahap. Ini masih umum dipakai di proyek jalan tol pegunungan China karena lebih murah untuk medan ekstrem.
Keempat, AI dan sensor geologi. Proyek baru di China mulai memakai sensor tekanan batu, radar geologi, machine learning, dan monitoring real-time pada TBM. Tujuannya supaya mesin tidak macet, terowongan tidak runtuh, dan pengerjaan lebih cepat.
Dengan teknologi canggih itu, jalan-jalan tol China jauhlah berbeda dengan jalan tol yang sering kita lalui seperti Bakauheni – Terbanggi Besar– Pematang Panggang – Kayu Agung– Palembang.
Biaya tol memang lebih. Jarak 650 km Chongqing-Fenghuang, mobil pribadi 350 Yuan. Kalau 1 Yuan sama dengan Rp2.250, maka tol Chingqing-Fenghuang dengan jarak 650 Km, sekitar Rp787.500.
Sedangkan biaya tol untuk bus Chongqing-Fenghuang, tentu lebih mahal dari mobil pribadi. Sekali jalan sekitar 650 Yuan. Kalau 1 Yuan sama dengan Rp2.250, maka sekali jalan bus Chongqing-Fenghuang adalah Rp1.462.500.
Seperti kata tour guide, Acin, Fenghuang kini jauh berbeda dengan yang dulu belum ada akses transportasi yang lancar. Salah satu contoh, Fenghuang Ancient Town yang dibangun sekitar tahun 1704 M era Dinasti Qing atau akhir Dinasti Ming, adalah kota biasa saja, bahkan bisa disebut wilayah miskin. Padahal sudah menjadi jalur perdagangan dan militer di wilayah barat Hunan.
Perubahan besar menjadi kota wisata terjadi bertahap. Tahap 1 sebelum 1980-an, Fenghuang Ancient Town masih kota kecil biasa, ekonomi lokal, belum ada konsep wisata. Tahap 2, 1980–1990-an, pemerintah China mulai sadar nilai sejarah Fenghuang, mulai ada perlindungan bangunan tua, tapi masih belum ramai turis asing.
Barulah pada tahap 3, 2000–2010, terjadi boom wisata, Fenghuang resmi dipromosikan sebagai kota wisata nasional, seiring infrastruktur diperbaiki (jalan, hotel, akses) dan kemudian viral di wisata domestik China. Kini, memasuki tahap 4, Fenghuang jadi salah satu destinasi paling terkenal di China.
Beruntung ketika menginap di hotel bintang empat Phoenix Internasional Hotel, bisa berjalan kaki menuju Fenghuang Ancient Town. Kota ini asli yang kemudian diadaptasikan menjadi destinasi wisata tanpa kehilangan fungsi hidupnya.
Menjauh dari area hotel, suasana sudah mulai terasa berbeda, —bangunan modern perlahan bercampur dengan arus wisatawan yang bergerak menuju pusat kota tua. Begitu mendekat gerbang kota, kita bisa turun lewat escalator, yang sore itu mati, sehingga harus menelusuri dengan langkah berhati-hati menuju dasar.
Patung besar burung Phoenix menyambut kedatangan tamu dari berbagai penjuru dunia. Tentu jangan sampai melewati tanpa berfoto atau membuat video di depan patung burung Phoenix. Dalam mitologi Tiongkok justru Phoenixlah disebut Fenghuang, sering dianggap sebagai raja segala burung yang melambangkan kedamaian, kebajikan, dan keharmonisan.
Semakin mendekati area inti, jalan mulai mengecil, suasana berubah menjadi lebih tradisional. Suara modern kota perlahan tergantikan oleh aktivitas pedagang lokal dan wisatawan.
Saat memasuki gerbang kota tua, suasana langsung berubah total. Kita masuk ke kawasan bersejarah yang sudah berusia lebih dari seribu tahun, dengan bangunan kayu tradisional yang berdiri rapat di sepanjang Sungai Tuojiang.
Di sini terlihat jelas struktur kota jalan batu sempit yang berliku, rumah panggung kayu khas etnis Miao dan Tujia, toko kecil yang menjual teh, makanan lokal, dan souvenir.
Bagian paling ikonik dari perjalanan ini adalah Sungai Tuojiang yang membelah kota tua. Airnya tenang, dan di kedua sisi berdiri rumah panggung tradisional yang tampak “menggantung” di atas air. Di beberapa titik, wisatawan bisa melihat perahu kecil yang melintas pelan. Jembatan batu dan jembatan kayu kuno. Refleksi lampu dan bangunan di permukaan air.
Semakin sore hingga malam, Fenghuang berubah total, lampu-lampu kuning menyala di sepanjang sungai, usik tradisional mulai terdengar dari beberapa sudut, restoran kecil di tepi air mulai ramai. Suasana ini membuat kota terasa seperti “lukisan hidup”, bukan sekadar area wisata.
Di dalam kawasan ini juga terdapat sisa tembok kota kuno era Dinasti Ming, gerbang kota tua, pertunjukan budaya etnis Miao dan Tujia. Kombinasi ini membuat Fenghuang bukan hanya indah secara visual, tetapi juga kaya nilai sejarah dan budaya.
Di satu sisi, etnis Miao dan Tujia yang bisa membuat merinding. Konon katanya, peletnya sangat kuat. “Bagi laki-laki, jangan sampai menginjak kaki wanita-wanita Miao! Kalau itu terjadi, maka peletnya akan masuk dan pasti menjadi suaminya,’’ ujar Acin yang setia menemani menelusuri kota tua.
“Kalau wanita Miao yang terinjak kakinya cantik, kaya raya, cerdas, dan baik, tentu tak masalah,’’ sebutnya dengan mimik serius.
“Kalau nenek-nenek keriput, yaaaa?” kelakar Acin seraya hahaahaaa… (bersambung)




