Menikmati Hotpot Raksasa Rekor Dunia, Melihat “Skyline” Kota Chongqing
Sebelum pulang ke tanah air, santapan dulu di Pipayun Hotpot. Inilah restoran hotpot raksasa pemegang rekor dunia. Memiliki ratusan meja makan di area bertingkat lereng gunung, pengunjung menikmati hotpot sambil melihat skyline Kota Chongqing dari ketinggian.
Laporan Junaidi Johan, Chongqing
Nama “Pipayuan” berarti “Kebun Loquat”. Dahulu area itu memang kebun Buah Loquat sebelum berubah jadi kompleks restoran hotpot raksasa. Loquat adalah buah kecil berwarna kuning-oranye yang berasal dari Asia Timur, terutama Tiongkok. Dalam bahasa Mandarin disebut Pipa, sehingga nama restoran “Pipayuan” berarti “Kebun Loquat”.
Selain sebagai pemegang rekor restoran hotpot terbesar dunia dan memiliki ratusan meja makan di area bertingkat di lereng gunung, seluruh area Pipayun Hotpot dipenuhi lampu merah khas Tiongkok sehingga tampak spektakuler ketika malam.
Hotpot sendiri terkenal sangat pedas. Menggunakan kuah merah dengan banyak cabai dan Lada Sichuan. Kata orang Tiongkok, Lada Sichuan disebut Huajiao. Huajio inilah yang memberi sensasi kebas di mulut. Juga tersedia pilihan kuah tomat atau jamur yang lebih ringan.
Di sini masak sendiri. Ada beberapa kursi mengelilingi meja. Tergantung permintaan. Di tengah meja terdapat panci hotpot. Panci di tengah berisi kuah pedas berisi Huajio itu. Melingkari panci kuah pedas, terdapat panci kuah putih. Tidak pedas, berisi kaldu jamur, tomat atau herbal. Sering dipakai model begini: “yin-yang pot”; satu sisi pedas dan satu sisi tidak.
Cara masaknya khas. Merebus. Saus khas Chongqing, terdiri dari minyak wijen, bawang putih cincang, daun ketumbar, daun bawang, sedikit cuka, dan saus wijen atau kacang, sudah disediakan pekerja restoran. Diletakan di meja. Minyak wijen berfungsi mengurangi rasa terlalu pedas, sekaligus mendinginkan makanan panas.
Urutan merebus dimulai dari bahan-bahanya yang lama matang dulu. Seperti bakso, jamur, tahu, kentang, dan akar teratai, dimasukan terlebih dahulu dalam kuah pedas. Lalu masukan daging iris tipis, daging sapi, kambing, atau ayam. Cukup dicelup beberapa detik, supaya tetap lembut. Sayuran dimasukkan belakangan agar tetap segar.
Jangan coba-coba langsung meminum kuah pedas. Kuah merah khas Chongqing ini sangat berminyak dan superpedas. Penikmat hotpot hanya mengambil makanan dari kuah. Bukan meminum kuahnya seperti sup biasa. Karena kandungan cabai dan lada sangat kuat, cukup berat untuk lambung yang belum terbiasa.
Ya, berhati-hati dengan “Mala”. Yaitu, rasa khas Chongqing. Ma = kebas, la = pedas. Sensasi kebas berasal dari lada Sichuan (Huajiao) tadi. Bukan cabai biasa. Bagi orang Indonesia awalnya terasa aneh, bibir sedikit mati rasa, tetapi lama-lama justru nagih.
Ketika menyantap hotpot sebaiknya menggunakan sumpit dengan benar. Harus terbiasa menggunakan sumpit pribadi, dan sumpit umum untuk mengambil makanan mentah. Di Tiongkok, ini dianggap lebih sopan dan higienis.
Hotpot bukan makan cepat. Biasanya duduk lama, berbincang, tambah bahan sedikit demi sedikit, dan menikmati suasana ramai. Makanya, di Pipayuan Hotpot, orang sering makan sambil menikmati lampu malam kota Chongqing dari bukit.
Berapa harga yang harus dibayar? Di Pipayuan Hotpot, biaya makan biasanya tergantung jumlah orang, jenis kuah, banyaknya daging dan seafood, serta apakah memilih area dengan view malam terbaik.
Secara umum, rata-rata biaya makan adalah sekitar RMB 120–150 per orang. Atau kira-kira Rp270.000 – Rp340.000 per orang (tergantung kurs).
Apakah Mahal? Untuk standar Chongqing, Pipayuan termasuk kelas menengah ke atas, karena bukan hanya makan, tetapi juga menikmati suasana bukit, city light Chongqing, dan pengalaman restoran hotpot terbesar.
Tips untuk wisatawan Indonesia, seperti saya mulai dari kuah non-pedas dulu. Jangan terlalu banyak mengambil cabai merah. Minum teh atau susu kalau kepedasan.
Pesan daging iris tipis — paling aman dan enak. Coba tahu, jamur enoki, dan udang. Jangan pakai pakaian terlalu bagus karena aroma hotpot mudah menempel.
Nikmati Pipayun ini ketika sore hari sampai malam, untuk mendapatkan sensasi melihat Kota Chongqing dari ketinggian.
Tips terakhir inilah membuat ketika ke Chongqing, sebaiknya nikmati terlebih dahulu objek wisata yang lain sebelum ke Pipayun Hotpot.
Makanya pada hari itu, yang dikunjungi terlebih dahulu adalah Great Hall. Lalu Liziba Light Rail Throug the Building. Kemudian Kulxing Building, dan selanjutnya Liberation Monumen. Hanya Hongya Cave yang dikunjungi setelah Pipayun Hotpot, karena tempat ini semakin malam semakin indah; terang karena lampu-lampu keemasan, memerah berkilauan. Ya, super-ramai pengunjung.
Tradisional Berfungsi Modern
Great Hall, lengkapnya Great Hall of the People atau dalam bahasa Tiongkok Renmin Da Lihuitang adalah gedung monumental dan salah satu ikon arsitektur paling terkenal di Chongqing.
Gedung ini dibangun tahun 1950-an. Bergaya arsitektur tradisional tapi fungsinya modern sebagai aula pertemuan dan pertunjukan. Ya, untuk rapat besar pemerintahan, acara budaya, konser, opera, pertunjukan tradisional, dan acara kenegaraan daerah Chongqing. Kapasitas aula utamanya sangat besar, ribuan orang bisa duduk di dalamnya.
Bangunan ini terkenal karena kubah raksasa hijau. Atap bertingkat khas istana Tiongkok, dan plaza luas di depannya. Di sinilah saya beberapa kali mengambil foto, dan video. Tampak bentuknya mirip perpaduan Temple of Heaven di Beijing dengan aula pemerintahan modern. Saat malam, katanya lampu emas dan merah membuat gedung tampak sangat megah. Tapi, saya tidak sempat menunggu sampai malam di sini. Karena harus buru-buru menuju Liziba Light Rail Throug the Building.
Kereta Menembus Gedung
Objek wisata terkenal Kota Chongqing, di mana kereta monorel benar-benar menembus apartemen. Kereta masuk ke bagian tengah gedung lalu keluar lagi di sisi lain. Bukan kereta “membobol” gedung lama, Melainkan gedung dan rel memang dirancang menyatu sejak awal.
Ada dua opsi untuk menikmati Liziba Light Rail Throug the Building. Pertama, melihat saja dari luar. Untuk ini cukup datangi area observasi dan spot foto di luar stasiun. Ini gratis, tidak perlu tiket masuk.
Opsi kedua, tentu lebih menarik. Langsung naik kereta. Naik dari pusat kota.Mulai dari Jiaochangkou Station atau daerah Jiefangbei. Naik Chongqing Line 2 arah barat. Dalam perjalanan, pemandangan sungai bagus, dan bisa bersiap melihat Liziba dari dalam kereta.
Saat mendekati Liziba, kereta akan berjalan pelan. Mendekati gedung apartemen. Lalu, perlahan masuk ke “mulut gedung”. Dari dalam kereta rasanya unik, seperti masuk ke pusat perbelanjaan, tetapi sebenarnya itu apartemen plus stasiun.
Kereta kemudian berhenti di Liziba Station. Silahkan turun. Penumpang lain naik. Ini persis di lantai 6-8 gedung. Sementara lantai bawah untuk toko/komersial, Lantai atas menjadi apartemen warga.
Apakah tidak berisik? Ini pertanyaan yang paling sering muncul. Kereta di Liziba memakai teknologi peredam suara, roda karet khusus monorel, dan struktur rel terpisah dari struktur apartemen. Karena itu suara dan getaran jauh lebih kecil dibanding kereta biasa.
Setelah turun di Liziba Station, lantai 6-8 gedung, keluarlah menuju Observation Deck. Ikuti petunjuk Exit A/viewing platform. Dari sini bisa melihat kereta masuk gedung dari luar, mengambil video, dan melihat “kereta ditelan gedung”.
Jangan khawatir tidak dapat momen, karena interval kereta lewat 5–7 menit. Satu kereta menuju pusat kota. Satu lagi menuju arah sebaliknya.
Kereta tidak berhenti di gedung itu saja. Liziba hanyalah satu stasiun di line 2. Setelah keluar dari gedung, kereta terus melaju melewati kota Chongqing, menyeberangi area sungai, dan menuju stasiun berikutnya. Ke arah timur menuju pusat kota Chongqing. Ke arah barat menuju kawasan pinggiran dan ujung jalur Yudong.
Berapa tarif yang harus dibayar? Sistem tarif Chongqing Rail Transit Line 2 dihitung berdasarkan jarak perjalanan. Perjalanan pendek sekitar 2 Yuan. Perjalanan sedang 3-5 Yuan, dan perjalanan jauh lintas kota sampai 10 Yuan.
Jadi kalau hanya naik dari pusat kota ke Liziba, lalu turun untuk foto-foto, biasanya hanya sekitar 2–4 Yuan, atau kira-kira Rp4.000 – Rp9.000 saja.
Lantai 22 Serasa Lantai Dasar
Setelah menikmati kereta menembus gedung, yang dikunjungi kemudian adalah Kuixing Building atau Kuixinglou. Tempat ini adalah salah satu ikon “kota ajaib 8D” Chongqing yang sangat viral di media sosial karena efek ilusi arsitekturnya yang membingungkan. Rasa-rasanya sedang berdiri di lantai dasar, eh sebenarnya berada di lantai 22.
Di Kuixing Building satu sisi plaza tersambung langsung dengan jalan kota, tetapi sisi lainnya menggantung sangat tinggi di atas jurang kota. Jadi ketika melihat ke bawah, orang baru sadar, ternyata dirinya berada sangat tinggi.
Nama “Kuixing” berasal dari dewa sastra dan ujian dalam budaya Tiongkok kuno. Dulu para pelajar datang ke paviliun Kuixing untuk berdoa agar lulus ujian kerajaan, mendapat keberuntungan akademik, dan sukses dalam karier. Bangunan modern sekarang adalah versi baru dari paviliun lama yang dipadukan dengan kompleks perkotaan modern.
Di sini saya mencoba berjalan ke plaza atas. Merasa seperti di “ground floor”. Lalu melihat ke bawah dari jembatan, kaget karena ternyata sangat tinggi. Befotolah di spot paling populer: jembatan besi penghubung, sudut foto vertikal ke bawah, dan pemandangan gedung bertingkat Chongqing.
Monumen Pembebasan
Selanjutnya menikmati Liberation Monument. Adalah monumen paling terkenal di pusat kota Chongqing. Dalam bahasa Tiongkok disebut Jiefangbei. Artinya Monumen Pembebasan. Tempat ini bukan hanya sebuah tugu, tetapi juga pusat kota modern Chongqing, kawasan belanja, titik pertemuan wisatawan, dan simbol sejarah kota.
Di sekeliling monumen bertinggi 27 meter, terdapat gedung pencakar langit, pusat perbelanjaan mewah, restoran, hotel, dan layar LED besar. Suasananya sering dibandingkan dengan Times Square versi Chongqing.
Awalnya monumen ini dibangun untuk memperingati kemenangan Tiongkok dalam Perang Dunia II melawan Jepang. Pada masa perang Chongqing pernah menjadi ibukota sementara Tiongkok, karena Beijing dan Nanjing diduduki Jepang.
Di seputar inilah saya berbelanja oleh-oleh, dan santapan siang. Cukup berjalan beberapa puluh meter saja dari monumen, lalu berbelok ke kanan, naik tangga, di sini pusatnya makanan-minuman sedap. Kesulitan tentu mencari yang halal, dan tidak semua pedagang bisa berbahasa Inggris,
Siang menuju petang, dihabiskan menikmati bakso dan udang goreng dibalut bumbu khas Tiongkok, lagu bergegas menuju tempat lain. Ya, Pipayuan Hotpot, dan selanjutnya ke Hongya Cave.
Bagunan di Tebing dan Goa
Orang Tiongkok menyebutnya Hongyadong. Wisatawan lebih cenderung mengatakan Hongya Cave. Adalah salah satu ikon paling terkenal di Chongqing. Sebenarnya bukan gua biasa, melainkan kompleks bangunan bertingkat bergaya tradisional Tiongkok yang menempel di tebing sungai.
Hongyadong yang berdiri di pertemuan Sungai Yangtze dan Sungai Jialing tampak seperti kota bertumpuk, rumah panggung kuno, bak dunia fantasi film anime. Saat siang detail arsitekturnya terlihat jelas. Nuansa tradisional lebih terasa, dan pengunjung bisa melihat bentuk asli bangunan bertingkatnya yang terinspirasi dari rumah tradisional diaojiaolou, rumah panggung khas daerah pegunungan Tiongkok barat daya.
Pada siang hari suasananya lebih santai. Lebih cocok untuk menjelajah. Belanja suvenir, dan menikmati detail bangunan. Bisa melihat lorong kayu. Balkon bertingkat. Lentera merah. Atap tradisional, dan jembatan kecil. Di dalamnya ada restoran, toko teh, makanan khas Chongqing, toko kerajinan, dan area budaya. Karena belum dipenuhi lampu neon, siang hari memberi kesan kota tradisional kuno di atas tebing.
Saat malam hari Hongyadong berubah total. Ribuan lampu emas dan merah menyala di seluruh bangunan sehingga tampak seperti istana terapung, dunia dongeng, atau kota dalam film Studio Ghibli. Inilah waktu paling terkenal dan paling ramai. Pantulan cahaya di sungai membuat suasananya sangat dramatis. Banyak orang mengatakan Hongyadong terasa seperti dunia cyberpunk, anime Jepang, atau film futuristik Tiongkok. (bersambung)




