Nila Sebelanga

Oleh: Junaidi Djohan

“Jika tidak bisa memaafkan dan melupakan, pilih satu di antaranya.” –Robert Brault, 

Memaafkan? Sepertinya (kata yang berempati) belum terlihat dari hari-hari ini, sejak Prof. Dr. Karomani, M.Si., dicokok KPK bersama teman-temannya. Suasananya kini tidak lagi seperti “karena nila setitik, rusak susu sebelanga.” Tetapi sudah  seperti “karena nila sebelanga, rusak susu sesumur, sedanau, bahkan selautan…”

“Susu-susu” itu semakin rusak, ketika orang-orang semakin agresif melihat di mana kerusakannya. Tidak perduli itu orang jauh. Orang setengah jauh. Atau orang dekat. Ahli. Setengah ahli, termasuk ahli ramal –semuanya ramai-ramai memperlihatkan kehebatannya, ya  memperlihatkan kerusakan itu.

Orang-orang  tersebut menari-nari seakan-akan berkata merekakah yang supertahu, atau setidaknya tahu  benar, dan jarang mengatakan hanya tahu sedikit. Yang lainnya seperti peramal. Mereka seperti dapat momentum untuk pamer ketahuannya,  dan menunjukkan ketajaman ramalannya.

Mereka juga memanfaatkan peluang untuk meletupkan amarah. Meledakkan kesumat, yang  sepertinya selama ini tak terakomodir, terlupakan, bahkan terabaikan. Keprihatinan  tampaknya terus memuncak. Hati yang terus memanas karena terbakar. Jiwa yang marah semarah-marahnya.

Singkat kata, orang-orang pada tidak bisa lagi menikmati proses. Cepat berpikir buruk. Mudah kecewa pada setiap hasil yang tak sesuai harapan. Dan, tidak bisa lagi mengambil hikmah. Jadilah hujan sehari menghapus panas setahun.

Padahal  Prof… itu dulu juga orang biasa. Berproses menjadi sesuatu. Ia lahir. Lalu jadi bayi. Kemudian menjadi kanak-kanak awal.  Kanak-kanak tengah dan akhir. Kemudian menjadi remaja. Dewasa muda. Dewasa tengah. Ya, tidak dari janin langsung loncat jadi  lansia: 61 tahun.

Waktu pertama sekali menghirup udara di bumi: “terlempar” dari rahim ibunya, pada  akhir tahun: 30 Desember 1961, sang ibu tersenyum dalam perihnya, maaf -selakangan yang terkoyak. 

Setelah berpindah dari  tangan yang menolong persalinan, apakah itu ia dokter, bidan, atau mukin dukun beranak,  bayi yang kemudian diberi nama Karomani itu dibisikan suara azan.

Jauh sebelumnya, jabang bayi itu, sembilan bulan “digendong” ibunya ke mana-mana. Menapak jalan mendaki. Menuruni lembah. Bahkan dalam pekerjaan rumah yang mendera: dapur, sumur, hingga kasur, yang utama adalah keselamatan sang janin.

Beranjak besar, dia selalu  diajarkan sopan santun. Ditanamkan nilai-nilai agama sedari kecil.

Tamat SD Cipicung 01, Pandeglang, Banten 1 pada 1975, SLTP: SMP YPP Menes 1975, ia selalu dibekali hal-hal baik yang mestinya ia jadi manusia yang seutuhnya: intelektual dan spiritual!

Sang bapak, terlebih sang ibu pasti tersenyum di hati ketika Karomani remaja memilih akan menjadi guru atau dosen, dengan memasuki SPGN Pandeglang, Banten 1982,  Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia IKIP Bandung 1987. Yang artinya ia telah mentasbihkan akan mencerdaskan kehidupan bangsa.

Sang bapak, apalagi sang ibu, semakin lebar senyum di hati, ketika tamat sang anak diterima menjadi dosen di Universitas Jambi.  Di FKIP pula. Tepatnya Pendidikan Bahasa dan Sastra (PBS) Indonesia. Menjadi Penata Muda (III/A)  pada  awal awal bulan: tanggal 1, pada akhir tahun: Bulan Desember, di 1989.

Di PBS FKIP Unja, sejak tahun 1989, ia memang tidak  terlalu menonjol. Tapi ia selalu serius dalam meluncurkan kata-kata ketika mengajar. Tidak hebat melucu untuk mencairkan suasana. Tapi ia punya suara yang nyaring. Walaupun  tidak memiliki perawakan tidak terlalu besar, tapi ia sangat gesit.

Walaupun ia juga cinta parlente. Tapi selalu mengesankan kesederhanaan. Ketika dari  rumah, lalu ke  “kampus utama” di Telanaipura, kemudian menuju “kampus baru”  di Mendalo Darat,  ia hanya naik kendaraan roda dua, bahkan sering naik angkutan kampus berbaur dengan banyak mahasiswa.

Setelah belasan tahu tak melihat batang hidungnya, barulah tahu darinya  ia  sudah belasan tahun pindah dari Universitas Jambi ke Universitas Lampung.

Di Universitas Lampung, perjalanan karirnya  tidak mulus-mulus amat. Tercermin dari ruang kerjanya, lalu bagaimana ia bisa melalui hari-hari  mengajar.

Di ruang kerja tak ada yang bisa dibanggakan. Ruang kerjanya  bersama dosen-dosen lain. Meja dan kursi saja hanyalah dari kayu. Sederhana. Ya, seperti bangku murid SMP di kampung-kampunglah.

Suatu waktu melongok di ruang kerjanya, tak terlihat buku-buku, atau alat tulis tersusun di meja. Bersih, tidak ada satupun perangkat untuk menunjang  keseriusannya dalam mengajar. Mungkin sulit mendapat kepercayaan mengampu mata kuliah tertentu. Makanya, selentingan terdengar bahwa dia sempat “keliling”   prodi-prodi untuk mendapatkan mata kuliah.

Ketika mau meraih gelar master, terdengar pula usahanya tertatih-tatih. Begitu pula ketika akan meraih gelar Doktor, tak mudah baginya menyelaikan studi puncak itu.

Entah karena tak tahan dengan penderitaan, ia sepertinya  kemudian “berguru”  di luar lembaga pendidikan: dengan tokoh organisasi keagamaan tentu, dan tokoh  politik tertentu.

Sukses?

Bisa jadi. Buktinya setelah belajar di luar itu, karirnya melejit. Satu tahun  sejak meraih guru besar pada awal bulan: tanggal 1, Bulan Maret 2015, ia sudah diangkat menjadi Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni pada 2016.

Berakhir di jabatan ini pada 2020, wow, ia langsung menjadi rektor. Mestinya menjabat sampai 2024, tapi keburu ditangkap, dan tamatlah dia.

Ini adalah puncak dari segalanya atas perjuangan bapak-ibunya. Tentu dirinya. Dari setetes air hina, bersemayam di rahim ibunya, lahir, prasekolah, sekolah dari pendidikan dasar hingga tinggi, menjadi dosen, menjadi wakil rektor, dan akhirnya menjadi rektor.

Sekolahnya tinggi, sudah tak ada lagi yang lebih tinggi lagi. Ia pun dianugerahi titel tertinggi, tidak ada lagi yang lebih tinggi dari itu. Ia juga telah meraih posisi yang  sangat tinggi di perguruan tinggi, dan tidak ada posisi yang lebih tinggi lagi.

Prosesnya begitu panjang dan penuh dengan onak dan duri yang rasanya sayang untuk tidak diambil hikmahnya. Lebih baik tentu kalau bisa memberi maaf sekaligus melupakannya. Kalau tidak, pilih satu di antaranya: memaafkan atau melupakannya.

Bagi Dodinsky, memberi maaf sama halnya menemukan kembali jalan kedamaian yang bersinar. Biarlah hukum yang berkerja… *

.*

About Redaksi

jurnalistik
View all posts by Redaksi →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *